Lionel Messi Cuma Jadi Dewa di Barcelona, Tidak di Argentina

Namun tidak demikian kala ia berada di timnas Argentina. Demikian yang disampaikan oleh jurnalis SPORT, Lluis Mascaro. Menurut Mascaro, Messi mendapatkan segala yang dibutuhkan untuk jadi nomor satu di level klub. Namun kala tampil bersama Albiceleste, Si Nomor 10 tidak pernah punya sosok yang bisa menyokong.
Kegagalan Argentina merebut gelar juara di final Copa America 2016 berbuntut serius. Lionel Messi sang kapten resmi menyatakan pensiun. Bahkan menurut Sergio Aguero, beberapa pemain siap mengikuti jejak La Pulga. Jika Messi menepati janjinya, karier internasionalnya bakal penuh luka. Hingga kini, Messi memang belum pernah memberikan gelar untuk Albiceleste di tingkat senior.
Hal ini jelas cukup aneh. Di level klub, Messi sudah memenangi segalanya bersama Barcelona. Delapan kali juara Liga Spanyol, empat kali juara Liga Champions, dan sederetan trofi lain. Belum lagi catatan lima kali Ballon dOr yang dipunyai. Pesona Messi di Barca inilah yang membuat dirinya disebut sebagai pemain terbaik dunia era ini, kalau bukan pemain terbaik sepanjang masa.
Perbedaan antara Messi di Barca dan Messi di Argentina terletak pada lingkungan sekitarnya. Di Barcelona, Messi memiliki segalanya untuk jadi juara. Ia punya rekan setim yang merupakan generasi emas Spanyol Valdes, Puyol, Pique, Xavi, Iniesta, Busquets, hingga Pedro). Selain itu ada pelatih yang sudah sangat mengenalnya (Rijkaard, Guardiola, Vilanova, hingga Luis Enrique). Ketika generasi emas Spanyol mulai berlalu, Messi mendapatkan dukungan dari Neymar dan Luis Suarez yang membentuk Trio MSN bersamanya.

Lain lagi ketika bermain di Argentina. Banyak yang menyebut, Albiceleste era ini memang memiliki pemain bintang. Namun mereka lebih merupakan sekumpulan individual yang bermain dalam satu tim alih-alih sebuah tim yang utuh. Penampilan Angel Di Maria, Gonzalo Higuain, dan Kun Aguero di final Copa America Senin (27/6) adalah contoh.
Selain itu menurut Lluis Mascaro, Messi juga tidak punya pelatih yang cukup mampu mengoptimalkan kemampuannya. Dari era Diego Maradona, Alejandro Sabella, hingga Tata Martino, Albiceleste diyakini tidak punya proyeksi untuk melindungi Messi, membuatnya jadi pemain lebih baik.
Tidak kalah penting adalah dukungan fans. Di Barcelona, Lionel Messi adalah dewa. Ketika ia pernah berselisih dengan Luis Enrique, fans Barca tidak balik badan. Mereka memilih Enrique saja yang hengkang daripada La Pulga. Namun, tidak demikian kala berseragam Argentina. Ketika ada di titik terendah, Messi diyakini justru mendapatkan hantaman bertubi-tubi dari publik sendiri, yang mestinya lebih bersabar pada La Pulga.

cn-liqing.com data togel sgp Sumber: Sidomi