AHY Meminta Pemimpin Jakarta Suburkan Kasih Sayang, Bukan Kebencian

Jakarta – Pasangan calon Gubernur DKI Jakarta nomor urut satu, Agus Harimurti Yudyohono dan Sylviana Murni melakukan kampanye terbuka di Hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Minggu (11/12). Agus menyampaikan pidato politik bertema NKRI dan Kebhinnekaan ini karena DKI Jakarta rumah besar dari lintas agama, suku dan ras yang sudah berlangsung lama dan berjalan damai. “Kerukunan hidup antara warga dengan suku, ras dan agama yang berbeda, sudah lama kita lakukan. Bukan hal baru,” ujar Agus. Dia menggambarkan kehidupan heterogen Jakarta Kehidupan bertetangga berjalan harmonis selama belasan tahun. Dirinya mencontohkan seperti di daerah Tambora Jakarta Barat. “Tak ada ketakutan, karena semua menjaga dan saling menghormati tanpa harus menjadi homogen,” tambahnya. Bagi Agus, Kebhinnekaan bagi warga Jakarta bukanlah sekedar festival, tapi kenyataan hidup yang sudah lama berlangsung sejak kota ini berdiri ratusan tahun lalu. Kebhinnekaan adalah DNA (genetik) kota Jakarta. Dirinya mengharapkan para pemimpin dan tokoh masyarakat haruslah menyuburkan kasih sayang dan rasa persaudaraan di antara komponen masyarakat yang berbeda identitas. “Jangan sebaliknya mudah menyebarkan serta membesarkan rasa kebencian di antara mereka semua,” pesan Agus. Ia meminta pemimpin Indonesia termasuk pemimpin Jakarta, tak boleh berjiwa sektarian dan partisan, khususnya jika menyangkut keberagaman kita sebagai bangsa. “Yang harus kita suburkan adalah love atau kasih sayang, dan bukan hatred atau kebencian,” terangnya. Dirinya mengatakan jika ada gejala atau insiden-insiden kecil yang bisa mengganggu kerukunan antar komponen yang berbeda identitas, pemimpin harus segera ambil langkah-langkah yang tepat dan bijak agar hal itu tidak berkembang ke arah yang lebih buruk lagi. “Negara harus hadir dengan cepat, jangan membiarkan kemudian ternyata terlambat, sudah tersakiti, sudah terluka, sudah tergores hati para pemeluk agama di negara kita, dan juga tergesek antara komunitas yang berbeda identitas tersebut,” tuturnya. Agus menyarankan nantinya diperlukan dialog terus-menerus, perlu kita hidupkan forum kerukunan antar identitas, agama, etnis, suku dan asal daerah. Sebagai wadah yang sah dan memiliki legitimasi yang tinggi untuk senantiasa menjaga kerukunan dan kebersamaan warga Jakarta. “Kalau wadah dan forum kerukunan itu telah ada, menurut saya harus lebih ditingkatkan intensitas dan efektifitasnya,” tuturnya. Namun, untuk menjaga kerukunan dan kebhinnekaan menurut Agus tidak harus selalu kita kaitkan dengan upaya pencegahan konflik di antara mereka. “Banyak cara yang bisa kita lakukan. Menggelar acara budaya, pameran, kuliner, wisata sejarah dan kegiatan sejenis yang dapat lebih menyatukan serta meningkatkan apresiasi satu sama lain, juga sebuah cara yang baik,” tutupnya. Hadir dalam acara tersebut Ketua umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhyono beserta ibu Ani Yudyohono, Ketua umum PAN, Zulklifi Hasan, Wasekjen DPP PKB, Daniel Johan, Letjen (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin, serta tokoh dari partai pengusung. Hotman Siregar/FMB Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu