Cikarang Akan Jadi Pusat Ekonomi Indonesia

Jakarta – Ditopang enam kawasan industri terbesar di Tanah Air dengan infrastruktur lengkap, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat akan menjadi pusat kegiatan ekonomi Indonesia. Cikarang juga bakal menyerupai Shenzhen, kota industri dan investasi di Guangdong, Tiongkok, yang menjadi pionir industrialisasi Tiongkok. “Harga tanah di Cikarang akan menjadi Rp 50 juta per meter. Semua industri yang paling hebat ada di Cikarang. Maka, Cikarang akan menjadi Shenzhen of Indonesia,” kata Chairman Lippo Group, Mochtar Riady saat berdialog dengan para jurnalis BeritaSatu Media Holdings di Beritasatu Plaza, Jakarta, Kamis, (22/9). Mochtar Riady menjelaskan, enam kawasan industri di Cikarang merupakan yang terbesar di Indonesia dengan luas lahan sekitar 200 km2. Di Cikarang terdapat kawasan industri otomotif yang mampu memproduksi 1 juta mobil dan 10 juta sepeda motor per bulan. Berbagai produk elektronik, seperti televisi, kulkas, AC, dan mesin cuci, juga diproduksi di Cikarang. “Cikarang akan menjadi pusat ekonomi Indonesia jika semua infrastruktur transportasi sudah terbangun,” ujar pengusaha berjuluk “Manusia Ide” karena gagasan-gagasannya yang revolusioner ini. Dia menambahkan, pemerintah berencana membangun berbagai infrastruktur, seperti bandara dan pelabuhan di Cikarang dan sekitarnya, termasuk railway Cikarang-Tanjung Priok, high speed railway Jakarta-Cikarang, serta railway Jakarta-Bandung yang melewati Cikarang. “Jika semua sudah terbangun, bukan tidak mungkin pada 2020 nanti Indonesia menjadi Indonesian factor century , seperti Tiongkok yang pada tahun 2000 menjadi China factor century, ” tutur entrepreneur yang juga dikenal sebagai intelektual itu. Menurut Mochtar Riady, Tiongkok menjadi negara yang begitu kuat dan kaya setelah memulai industrialisasi dari satu titik, Shenzhen. Kondisi Shenzhen saat Tiongkok mulai membangun industrinya beberapa dekade silam jauh di bawah kondisi Cikarang saat ini. “Cikarang akan membuat Indonesia lebih baik. Ekonomi kita akan langsung menanjak. Kalau pada tahun 2000 disebut China factor century (abad yang dipengaruhi Tiongkok), maka pada 2020 menjadi Indonesian factor century. Saya percaya itu,” tegasnya. Mochtar berkisah, pada 1991 cadangan devisa Tingkok hanya sekitar US$ 200 juta. Kondisi infrastruktur di Tiongkok saat itu belum memadai. Bahkan, di Shenzhen, fasilitas listrik dan jalan sangat buruk. Tiongkok kemudian bangkit dan mulai membangun dari Kota Shenzhen, yang saat itu merupakan kota termiskin di Tiongkok, dengan jumlah penduduk sekitar 20.000 jiwa yang hampir separuhnya nelayan. Kini, Tiongkok menjadi salah satu negara adidaya dengan jumlah cadangan devisa sekitar US$ 4 triliun. “Penduduk Tiongkok kini berjumlah 1,4 miliar jiwa. Sekarang mereka bisa membangun infrastruktur yang begitu hebat, terbaik di dunia. Cadangan devisanya sudah US$ 4 triliun. Itu semua dimulai dari satu titik, yaitu Shenzhen. Kalau Tiongkok bisa, kenapa Indonesia tidak bisa?” kata Mochtar. Mencontoh Tiongkok Mochtar Riady mengungkapkan Indonesia bisa mengikuti jejak Tiongkok. Syaratnya, segenap komponen bangsa di negeri ini harus memiliki keyakinan yang kuat tentang perlunya perubahan. “Reformasi ekonomi harus mampu mengubah mental para pelaku ekonomi itu sendiri,” ucapnya. Mochtar mencontohkan Tiongkok maupun Hong Kong bisa bekermbang pesat karena mereka mampu menerjemahkan ekonomi perencanaan menjadi ekonomi pasar. “Hong Kong merupakan salah satu negara penganut tulen ekonomi pasar,” tuturnya. Bangsa Indonesia, kata dia, harus punya keyakinan kuat. Jika Tiongkok saja yang semula begitu miskin akhirnya menjadi negara kuat karena membangun dari satu titik (Shenzhen), Indonesia seharusnya bisa berbuat hal yang sama dari Cikarang. “Kita harus punya keyakinan yang kuat bahwa kita harus mulai dari satu titik. Nah, satu titik ini adalah Cikarang,” ujarnya. Untuk menjadikan Indonesia sebagai faktor penentu abad dunia ( Indonesian factor century ) pada 2020, menurut Mochtar Riady, pemerintah harus memiliki perencanaan infrastruktur dan ekonomi yang baik. Dengan pembangunan infrastruktur dan konsep perekonomian yang matang, Indonesia bakal diperhitungkan, baik di kawasan Asia maupun global. Mochtar Riady juga banyak menyinggung kondisi APBN, termasuk soal pemotongan anggaran oleh Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati, “Kalau pemotongan itu bertujuan untuk penghematan, tentu bisa dimaklumi. Tetapi kalau pemotongan terjadi pada proyek-proyek infrastruktur yang bakal menjadi kataliasatior pertumbuhan ekonomi, tentu harus dipertimbangkan lagi,” paparnya. Mochtar menekankan pentingnya penggunaan anggaran secara efektif dan efisien, termasuk yang terkait dengan utang. Mengutip teori ekonom Prancis Thomas Piketty dalam bukunya yang berjudul Capital in the Twenty-First Century , Mochtar Riady menegaskan berapa pun besarnya utang tidak masalah, asalkan digunakan untuk kegiatan investasi yang bermanfaat. “Saya ingat tahun lalu Menko Perekonomian Darmin Nasution mengatakan pinjaman Indonesia yang mencapai 27 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) masih dalam batas aman. Sedangkan kalau sampai 30 persen masuk kategori tidak aman. Tetapi utang pemerintah AS sampai 80 persen terhadap PDB-nya kok aman? Jepang sampai 230 persen juga aman. Yang paling besar Tiongkok, mencapai 243 persen, itu juga aman,” tegasnya. Mochtar menambahkan, sepanjang pinjaman negara menggunakan konsep investasi, hal itu tidak akan menjadi masalah, misalnya untuk membangun jalan tol dan fasilitas publik lainnya yang akan menjadikan perekonomian nasional murah, efisien, dan berdaya saing. “Kalau pinjaman itu untuk berfoya-foya, baru jadi masalah,” kata Mochtar. Revolusi Industri Keempat Menurut Mochtar Riady, berkembangnya era teknologi informasi (TI) saat ini harus disikapi secara cepat dan tepat oleh pemerintah maupun dunia usaha. Pertumbuhan TI yang tak bisa ditahan ini mampu menjadi stimulan bagi suatu negara untuk maju. Tiongkok, misalnya, berhasil menyalip AS karena kemampuannya di bidang teknologi. “Pemerintah dan dunia usaha harus responsif terhadap perubahan teknologi. Dunia sedang mengalami industri revolusi keempat, yakni nanotechnology, digital technology, dan biotechnology. Dampaknya sangat dahsyat,” ujarnya. Dia menjelaskan sebuah negara atau perusahaan yang tidak mampu mengikuti perubahan tersebut secara otomatis bakal tergeser dari kompetisi dunia. Apalagi Indonesia sudah masuk persaingan bebas pada era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). “Kalau pemerintah dan dunia bisnis tidak alert terhadap perubahan teknologi, politik dunia, dan ekonomi dunia, dia akan tergeserkan,” tegasnya. Mochtar Riady mengemukakan, bisnis yang mengikuti zaman tidak akan masuk kategori sunset industry . “Saya pernah ditanya pimpinan Sritex (produsen tekstil), bisnis apa yang paling menjanjikan? Karena bisnisnya tekstil, saya tanya, apakah ada orang yang tidak pakai baju? Saya berusia 88 tahun dan saya masih terus butuh pakaian yang bagus. Maka industri tekstil bukan sunset industry , tetapi sunrise. Tergantung pengusahanya bisa melihat kebutuhan masyarakat dan perubahan dalam teknologi atau tidak,” paparnya Mochtar mencontohkan alat pembayaran e-payment dalam industri keuangan. Dimulai dari sistem barter, penemuan alat pembayaran tunai, dan kini digital adalah penemuan terhebat manusia. Pada masa depan, mesin anjungan tunai mandiri (ATM) akan menjadi barang rongsokan dan kantor cabang bakal menjadi beban bank. “Perubahan yang drastis ini menjelaskan bahwa jika perusahaan tidak sadar terhadap perubahan teknologi, maka bisnisnya tidak mungkin berkesinambungan,” tuturnya. Contoh lain, lanjut Mochtar, adalah mobil. Seiring kemajuan teknologi, mobil pada masa mendatang tidak akan membutuhkan bahan bakar minyak (BBM) lagi, melainkan cukup menggunakan baterai. “Sekitar 150 tahun yang lalu segala industri tidak bisa terlepas dari dinamo motor, sekarang semuanya bergantung pada chip ,” ucapnya. Teladan Orangtua Dalam kesempatan itu, Mochtar Riady mengisahkan masa-masa kecilnya hingga ia tumbuh dewasa dan menjadi pengusaha. “Apa yang dicapai saya saat ini tidak terlepas dari peran ayah saya yang mendidik saya menjadi seorang yang dewasa dan matang,” tutur Mochtar yang dilahirkan di Batu dan dibesarkan di Kota Malang. Sebagaimana dituangkan dalam buku otobiografinya berjudul Manusia Ide yang diterbitkan awal tahun ini, Mochtar Riady membagi lima episode perjalanan hidupnya. Setiap episode menceritakan 20 tahun perjalanan hidup pengusaha nasional itu hingga memasuki usia 87 tahun. Episode 20 tahun pertama (1929-1950) menceritakan masa kecil penuh duka dan derita, episode 20 tahun kedua (1951-1970) mengisahkan masa bersama pemerintahan membangun ekonomi nasional, sedangkan episode 20 tahun ketiga (1971-1990) mengungkapkan masa pengembangan usaha dalam era globalisasi ekonomi. Adapun episode 20 tahun keempat (1991-2010) menceritakan era Samudra Atlantik sampai era Samudra Pasifik. Terakhir, episode 20 tahun kelima (2010 dan seterusnya), adalah kisah tentang masa tua Mochtar Riady sebagai panutan bagi anak cucu dan generasi penerus. “Masa kelima hidup saya adalah untuk membayar kembali kepada Ibu Pertiwi, khususnya melalui pelayanan pendidikan dan kesehatan bagi rakyat hingga pelosok negeri,” tegasnya. Pada 20 tahun pertama, menurut Mochtar, keluarga–terutama orangtua, khususnya ayah– berperan sangat penting dalam perkembangan menuju kedewasaan. “Ibu saya meninggal ketika ayah saya berusia 40 tahun dan saya masih sembilan tahun,” ucapnnya. Dia mengemukakan, pendidikan rumah atau keluarga memegang peranan sangat penting dalam membangun karakter dan kepribadian seseorang. “Ayah selalu memberikan nasihat kepada saya. Kalau saya merasa ada hari ini, itu semua karena jasa ayah saya. Saat berusia sembilan tahun, saya diajari membaca komik. Setelah saya mengerti, baru saya diminta membaca buku cerita lainnya,” paparnya. Menurut Mochtar Riady, selain ayah, gurunya berperan penting dalam membentuk karakter dirinya. “Tentu saja istri saya tercinta punya peranan yang sangat menentukan arah perjalanan hidup saya,” tegasnya. Dia menegaskan, contoh dan arahan yang baik kepada anak harus menjadi landasan keluarga. Itu sebabnya, ia selalu berpesan kepada anak-cucunya supaya bisa mendidik anak-anaknya agar lebih hebat dari orangtua mereka. “Pemikiran saya sederhana. Kalau setiap keluarga anaknya baik, istrinya baik, suaminya baik, maka negara ini pasti baik. Setiap keluarga merupakan sel dari suatu bangsa. Kalau selnya semua sehat, bangsa itu pun sehat,” tegasnya. Mengejar Kuda Mochtar Riady juga mengemukakan filosofinya tentang “mengejar kuda dengan menunggang kuda”. Filosofi ini mengajarkan bahwa sesuatu hanya dapat dikejar dengan menggunakan sarana yang sama dan lebih baik. “Kalau mengejar kuda dengan menunggang kuda yang lebih hebat, pasti akan lebih mudah mengejar kuda di depan,” tuturnya. Filosofi ini pula yang diterapkan Mochtar saat memasuki industri perbankan beberapa dekade silam, termasuk saat ia bermitra dengan konglomerat Liem Sioe Liong (Sudono Salim) untuk membangun dan membesarkan Bank Central Asia (BCA). Filosofi menunggang kuda juga ia terapkan dalam bisnis-bisnis lainnya. “Apabila ingin masuk ke pasar Amerika, kita harus bermitra dengan seorang Amerika yang punya reputasi dan prestasi tinggi di Amerika. Lalu dengan sendirinya, kita sudah masuk dalam lingkaran bisnis Amerika,” tutupnya. Saksikan videonya di sini: Emanuel Kure/AB Investor Daily

Sumber: BeritaSatu